watch sexy videos at nza-vids!
Cerita17.club

CERITA 17 ǀ CERITA XXX ǀ CERITA SEX ǀ CERITA MESUM ǀ CERITA DEWASA ǀ CERITA BIRAHI ǀ CERITA SERU ǀ CERITA NAKAL ǀ CERITA NGEWEK ǀ CERITA HOT ǀ CERITA PANAS ǀ CERITA TERBARU

http://cerita17.club

Komik Sex
Ventura Cerita17.club

Ventura

(by: Cerita Panas)

Sinopsis: Dengan dukungan Ferry, preman kompleks, Kim menghajar habis-habisan Donny yang telah menyetubuhi Maya pada saat Maya setengah sadar akibat Ineks. Penganiayaan ini menyulut bara dendam, dan ketika Kim tanpa perlindungan Ferry, Donny beserta orang-orang bayaran berencana memberikan pelajaran mengerikan kepada gadis manis ini.

Prolog:

Surabaya, 2000

Kim membuka matanya lebar-lebar, berusaha menahan kantuk yang mulai menyerangnya. Kepengapan ruang kerja ini sedikit merisaukannya. Aku harus segera pulang, pikirnya. Dibereskannya kertas-kertas kerja di mejanya, mengangkat cangkir kopi yang sudah kosong itu dan menaruhnya di samping pintu. Mematikan lampu dan bergegas menuju lift.

Lampu-lampu malam kota masih terlihat indah menjelang dini hari. Sopir taksi yang ditumpanginya menatap penuh rasa ingin tahu dari balik kaca spion penumpang. Kim tidak mengacuhkan pandangan itu, dan menikmati angin pagi segar yang masuk melewati celah jendela membelai ubun-ubunnya. Kim berusaha melupakan tumpukan pekerjaannya yang belum selesai.

Kim menghisap rokok di ujung bibirnya dalam-dalam, meresapi kelelahan yang mulai menusuk otot dan tulang di tubuhnya. Dalam kenikmatan asap rokok yang dirasakannya, benaknya melayang akan persimpangan alur kehidupannya yang terjadi empat tahun yang lalu, yang terasa begitu cepat dilaluinya. Saat-saat ia masih duduk di bangku kuliah, saat-saat bahagia bersama sahabat-sahabatnya, di sebuah rumah kontrakan kecil yang hanya ditempatinya seorang diri.

BAB I

Malang, 1996

"Ahk," Kim mendesah lirih saat Han meremas payudaranya, bibirnya terbuka, mencuri sedikit udara saat lumatan pria itu mencapai bibir bawahnya.

"Aku menyukaimu, Kim." Han berbisik di telinga gadis itu.

Kim memegang pundak Han dan mendorongnya menjauh. "Sayang," cetusnya, "Tapi bukan seperti ini yang kuinginkan."

Han tertawa. Lelaki itu mendekatkan lagi dadanya yang telanjang, tangannya terjulur dan menggapai payudara Kim yang masih meruncingkan bibirnya. "Masa..?"

"Hentikan, Han..!" Kim mendorong tubuh lelaki itu menjauh, bangkit berdiri dari sofa, memunguti pakaiannya dan mengenakannya.

"Kamu sebaiknya pulang sekarang."

Han mendengus dan bangkit berdiri. "Kamu sulit juga, ya..?"

Kim tersenyum miring, "Kamu kurang pandai. Sayang sekali."

Han mengenakan kausnya, menatap tubuh molek itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, "Kamu sesuai dengan reputasimu."

"Thanks."

"Tantangannya juga."

Kim tertawa, membalikkan tubuhnya, mendekati Han yang masih menatapnya. Kim mengangkat lengan lelaki itu, meletakkan tangannya di payudara kirinya dan berbisik, "Pulang, gih. Lain kali coba lebih perlahan, jangan terlalu agresif."

Han mencoba mengecup bibir gadis itu, tapi Kim sudah beranjak ke arah pintu dan membukanya.

"Kim."

"Apa lagi..?"

"Kalau kamu suatu hari nanti merindukan hubungan serius.."

"Iya, iya," Kim mendorong tubuh lelaki itu keluar, "Aku tahu."

Kim menutup pintu di depannya, kemudian menghampiri telepon yang mendadak berdering.

"Halo..?"

"Kim..?"

"Ah, Roy. Wazzup..?"

Suara di seberang memperdengarkan tawa renyah, "Sibuk..?"

"Ah, ngga juga. Kenapa..?"

"Jalan yuk..?"

Kim mendesah, merasakan pening di kepalanya.

"Lagi M, nih. Malas maksudnya."

"Yah. Okelah, lain kali..?"

"Sure."

Kim meletakkan gagang telepon itu, mengutuk kepada pening yang masih mengguncang kepalanya. Diayunkannya langkah kakinya menuju lemari ruang tamu. Alisnya berkerut ketika Neuralgin itu memasuki tenggorokannya. Kim menarik kerah bajunya, berdecak sebal saat melihat bekas gigitan itu di atas payudaranya.

"Lelaki sial." geramnya.

BAB II

Maya memandang Kim yang masih sibuk menghabiskan jus jeruknya.

"Kim."

Kim menolehkan kepalanya menatap sahabatnya. "Apa..?"

"Aku tadi malam melakukannya dengan Donny."

Kim membelalakkan matanya, mengambil tissue dan mengusap sedikit air jeruk yang sempat menetes di sudut bibirnya, "Donny..?"

"Iya. Donny."

Bibir bawah Maya mulai bergetar, bulir air mata mulai mencoba menembus kantung mata gadis itu. Kim menyodorkan kotak tissue di depannya.

"Bagaimana bisa..?" tanyanya dengan nada marah.

Maya mengusap air matanya yang mulai mengalir, "Ineks."

Kim menggeleng-gelengkan kepalanya, menyalakan sebatang mild hijau yang terselip di bibirnya.

"Cih, sejak kapan kamu selemah ini..?" desisnya.

"Aku bukan kamu, Kim." desah gadis di sebelahnya.

Kim terhenyak sesaat. Arogansi keberadaannya telah membuatnya begitu unggul di hadapan teman-temannya. Dan itu sangat disadarinya. Kim menghembuskan asap rokok dari sudut mulutnya, menatap ke arah kolam ikan di depannya.

"Lalu dia bagaimana..?"

Maya menghela nafasnya dalam-dalam, "Entahlah."

"Kok 'entahlah'..?"

"Katanya karena dasar suka sama suka.."

"Hei," Kim memotong ucapan Maya, "Suka sama suka..?"

Maya menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Kim menghisap rokoknya dalam-dalam, tubuhnya bergoyang-goyang menahan emosi yang meluap di dadanya.

"Ferry bisa menghabisinya sekarang." geramnya.

"Jangan, Kim." Maya memegangi lengan sahabatnya erat-erat.

Kim mengerang dan mengangkat kedua lengannya ke atas.

"Ya sudah, kalau itu maumu."

Maya menjatuhkan kepalanya di bahu Kim dan membiarkan lengan Kim merangkulnya dan mengusap ubun-ubun kepalanya.

"Aku sayang Donny, Kim."

"Aku tahu." bisik Kim lirih.

Kim mengayunkan potongan kaki kursi itu dan menikmati darah yang mengucur dari sudut bibir lelaki di hadapannya.

"Bangsat..!" geramnya.

Lelaki lain yang memegangi lengan lelaki sebelumnya hanya tertawa menyaksikan keberingasan gadis di depannya, "Hajar saja, Kim."

Kim mengerang penuh kemarahan dan menusukkan ujung kaki kursi itu ke lambung lelaki di hadapannya, membuat lelaki itu menjerit tertahan dan membungkukkan tubuhnya.

"Lepaskan dia, Fer."

Ferry melepaskan tubuh yang segera tersungkur di tanah itu sambil tertawa sinis. Kim membungkuk, menjambak rambut lelaki itu dan berbisik di telinganya.

"Aku tak suka ineks, tapi aku sayang dengan sahabat-sahabatku."

Lelaki itu hanya mengerang tak jelas. "Dan," Kim meneruskan bisikannya, "Jika aku mendengar kau meninggalkan Maya, atau memberitahukan kejadian ini kepadanya.." Kim melemparkan kepala lelaki itu ke tanah, mengangkat tubuhnya dan melayangkan kakinya ke wajah lelaki itu.

Ferry menyaksikan semua itu sambil tertawa-tawa kecil. "Sudahlah, Kim. Dia pasti sudah sangat mengerti maksudmu." ucapnya beberapa saat kemudian.

Ferry mengambil potongan kaki kursi itu dari genggaman Kim, merangkul pundak gadis itu yang masih berguncang dan menuntun gadis itu pergi. Kim meronta, melangkah dan menatap teman-teman lelaki yang terhajar itu dengan garang, "Kalian..!" umpatnya.

"Pengecut-pengecut..! Dengar..! Kalau kalian tidak terima, sekarang boleh maju..!"

Ferry tersenyum, "Kalian akan melangkahi aku dulu, tentunya."

Kerumunan lelaki itu hanya terdiam dan menatap ke ujung kaki mereka masing-masing, gentar akan gertakan terakhir yang keluar dari preman kompleks bertubuh kekar di belakang si gadis. Kim meludah dan membiarkan lengan Ferry membawanya pergi.

"Bangsat-bangsat itu..!" Kim mendesis penuh kegeraman.

"Sudahlah, Kim." Ferry berusaha menenangkan sahabatnya, "Mereka toh hanya melihat, lagipula si Donny sudah menerima pesanmu, kan..?"

Kim menghisap rokoknya dalam-dalam, menghembuskan asapnya perlahan, menikmati kepulan yang membuyar di atasnya.

"Kim.."

"Yap..?"

"Bercinta, yuk."

Kim menoleh, menatap senyuman yang tersungging di atas janggut lebat lelaki yang duduk di sebelahnya, "Jadi karena itu kamu mau membantuku..?"

Ferry menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Eh.. ehm.."

Kim tertawa melihat kegugupan lelaki itu, yang menjadi sangat berbeda dengan beberapa saat yang lalu. Kim mengangkat lengannya dan menyisir rambut panjang Ferry dengan jemarinya, mengecup pipi lelaki itu, "Thanks."

Ferry menatap tubuh gadis itu yang sudah beranjak dan mengenakan helmnya.

"Yah. Gagal lagi, deh." gumamnya.

BAB II

"Kuadran hasil persamaan linier ini akan dapat diketahui.."

Kim berusaha keras mendengarkan ocehan bapak dosen yang terasa membosankan, lengan yang menyangga kepalanya mulai terasa pegal.

"Kim." Maya berbisik memanggil-manggil sahabatnya dari belakang.

Kim menolehkan kepalanya dan terpejam saat gumpalan kertas itu mengenai keningnya. Matanya menatap ke arah lemparan itu, dan melihat Maya yang menutupi mulutnya dengan alis terangkat. Kim meraih gumpalan kertas itu, mengomel kecil dan membukanya.

"Thanks berat, Kim. Maya." bacanya dalam hati.

Kim tersenyum dan menoleh ke arah Maya, mengacungkan jempolnya dan merasakan kelegaan yang merasuki hatinya saat Maya mengedipkan matanya.

"Mbak, tolong dijelaskan kepada teman-temannya."

"Ups." Kim menatap dosen yang mendadak sudah berada di sebelahnya.

Kim memasang senyum 'tak berdosa'-nya yang mau tak mau membuat Pak dosen sedikit merona dan akhirnya menolehkan wajahnya sambil mengomel panjang lebar, "Cantik-cantik bodoh, percuma saja."

Dosen itu melangkah kembali ke depan ruangan, tidak sempat menyaksikan beberapa lengan yang memegangi gadis di belakangnya, yang sudah memasang kuda-kuda dengan sepatu sandal di tangannya.

"Aku yang akan membuatmu panas."

Kim tertawa saat lelaki itu merangkulnya dan mengecupi lehernya, tangannya terangkat dan melingkari tengkuk si lelaki yang semakin liar menggerakkan kepalanya.

"Belum panas, tuh." ucapnya sambil tertawa kecil.

Lelaki itu mengangkat baju Kim melewati kepalanya, meremas payudaranya yang membusung, menciumi kulit dadanya dengan bernafsu.

"Ayo, panas." desah lelaki itu sambil sedikit terengah oleh nafsunya sendiri.

Kim meraih tali branya dan menariknya menuruni lengannya, membiarkan lelaki itu menikmati payudaranya yang telanjang, "Belum, juga."

Lelaki itu mendengus, menciumi payudara gadis di dekapannya, melumat puting payudara dalam genggamannya, membuat Kim sedikit terengah dan menggelinjang. Kim membiarkan jemari lelaki itu membuka kancing dan retsleting celananya, menikmati jemari si lelaki yang menyusup dan mengusap-usap permukaan kemaluannya.

"Touch me." desah si lelaki.

Kim mengulurkan lengannya, menarik celana si lelaki yang hanya terikat tali, dan merogohkan tangannya ke balik celana dalam si lelaki. Lelaki itu mendesah merasakan pijatan dan remasan tangan Kim pada batang penisnya. Lelaki itu mengangkat tubuhnya, menarik celana jeans berikut celana dalam si gadis dan membentangkan kedua kaki Kim di sisi tubuhnya.

Kim meronta dan menarik lengan si lelaki, menjatuhkannya ke atas tempat tidur, dan menindih penisnya dengan pinggulnya. Lelaki itu mendesah merasakan bibir kemaluan Kim yang menindih batang penisnya. Kim menggerakkan pinggulnya, menggesek batang penis lelaki di bawahnya, membiarkan cairan vaginanya membasuh penis lelaki itu dan membuat si lelaki mengeluh penuh kenikmatan.

"Kim.." Lelaki itu mulai menuntut yang lebih saat gerakan Kim semakin liar di atasnya.

Kim tertawa kecil, membungkukkan tubuhnya dan membiarkan lelaki itu mengecup ujung payudaranya, "Apa..?"

"Aku mau."

"Aku tidak."

Lelaki itu membuka matanya dan menunjukkan wajah protes, namun Kim segera mengangkat tubuhnya, meraih batang penis si lelaki dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Lelaki itu tak kuasa lagi menahan ejakulasinya saat Kim menghisap ujung penisnya. Kim tersenyum dan meludah ketika menyaksikan sperma lelaki itu menyembur dan membasahi kulit dadanya.

"Teganya kamu." desis lelaki itu sambil menyeka peluhnya.

"Baru tahu..?" Kim tertawa kecil, tangannya masih menggenggam batang penis lelaki di sebelahnya yang mulai melemas.

BAB IV

Kerumunan orang itu menjadi ramai ketika Ferry dan Kim tiba.

"Woy, Boss datang." Ferry melangkah turun dari macannya dan menebarkan senyumnya ke arah kerumunan orang itu.

Seorang lelaki kurus mendekatinya sambil berseru, "Gila nih, habis bercinta di mana..?"

Lelaki itu merasakan kepalanya terdorong maju dan tubuhnya limbung.

"Bercinta kepalamu." Kim tertawa menyaksikan lelaki itu berusaha menyeimbangkan tubuhnya.

Naryo tertawa juga melihat bibir Kim yang meruncing, "Kirain."

Kim mendekatinya, dan Naryo kali ini berhasil menghindari ayunan lengan itu.

"Sudah, sudah." Ferry tergelak melihat kekonyolan teman-temannya.

Kim mendekati Anya yang langsung memeluknya.

"Kim, si Donny kemarin garapanmu ya..?"

Kim hanya tersenyum, "Oh, bukan. Garapan si Ferry."

Ferry menggerakkan lengannya menyapu udara.

"Kalau kalian saksikan cara Kim mengayunkan potongan kursi itu. Wah."

Lima belas orang anak muda itu langsung tertawa berbarengan. Kemeriahan itu hanya ada bila Kim ada di antara mereka. Kalau hanya ada Ferry, mereka justru merasa sedikit seram dan kaku. Dan mereka tahu, hanya Kim yang mampu menjinakkan Boss mereka.

"Siapa tuh..?"

Ina menoleh ke arah lirikan Kim. "Oh, itu anak pindahan."

Kim memandangi tubuh kurus lelaki berambut panjang itu dengan seksama.

"Katanya sih, dari Surabaya." Anya membisiki kupingnya.

"Keren juga." bisik Kim menunjukkan raut wajah tertarik.

"Kim, si Boss ngeliatin, tuh. Awas cemburu melambai."

Kim menatap Ferry di kejauhan den menjulurkan lidahnya.

"Biar saja, emang gua pikirin."

Ina tertawa. Anya menyikut rusuk Ina, ketika Kim bangkit berdiri dan mendekati lelaki itu.

"Bisa pinjam korek..?"

Lelaki itu menoleh, menatap gadis di belakangnya. Sejenak lelaki itu merasa rokoknya hampir terlepas dari bibirnya.

"A.. ada." ucapnya tergagap-gagap.

Kim tersenyum saat lelaki itu menyalakan zippo-nya.

"Thanks." ucapnya dan berlalu, meninggalkan si lelaki gondrong yang masih terpana seakan baru saja didatangi bidadari surga.

"Pin..? Hoi."

Lelaki itu menoleh, melihat temannya yang nampak sedikit gugup."Huh..?" ucapnya singkat, sebelum matanya menatap kembali ke arah bidadari barusan yang kini juga menatapnya bersama teman-temannya.

Sebuah lengan menepuk bahunya. Papin melihat sosok tinggi besar yang berdiri tersenyum di sebelahnya yang menunjuk ke arah zippo-nya yang masih menyala.

"Eh..?"

"Minta apinya." orang itu berkata pelan.

Papin menyodorkan zippo-nya yang masih menyala.

"Jangan lupa ditutup. Nanti cafe-nya terbakar." seloroh orang tinggi besar itu. Papin memandangi orang itu yang melangkah menuju ke arah bidadari tadi.

"Aku berusaha mengatakannya kepadamu."

"Ah..? Apa..?" Papin menoleh ke arah temannya yang kini sudah mengeluarkan keringat dingin.

"Kenapa..?" tanyanya.

"Anak pindahan."

Kim menatap berang ke arah Ferry yang sudah mengambil posisi bersila di sebelahnya, "Lalu, kok ada bau intimidasi..?"

Ferry memandangnya dan hanya tertawa. Ina dan Anya ikut tertawa geli menyaksikan Ferry dan kecemburuannya. Kim mengomel dan menusuki roti bakar di depannya dengan gerakan berulang-ulang. "Hanya informasi situasi." Ferry berkata pendek di dekat telinga Kim dan beranjak kembali menuju teman-temannya di seberang.

Kim sempat melihat lelaki gondrong itu melirik dan tersenyum kepadanya, sebelum memalingkan wajahnya ketika Ferry melintas dengan sedikit menggeram. Ketiga cewek itu tertawa bersamaan melihat reaksi si lelaki gondrong yang terlihat gugup.

BAB V

Kim sedang menikmati lantunan musik melalui walkmannya ketika telpon di ruang tamu berdering.

"Hallo..?"

"Kintan..?"

"Yow. Siapa ini..?"

"Donny."

Ah, si Donny. Ada apa lagi dengan anak ini, tanya Kim dalam hatinya.

"Aku ada di depan, bukain pintu. Aku ingin cerita sesuatu. Masalah Maya."

"Oh. Baiklah." Kim menutup gagang telepon, melangkah menuju pintu.

Tangan itu menutup mulutnya dan membantingnya ke sofa.

"Aduh," Kim mengerang saat kepalanya menyerempat tembok, "Apa-apaan ini?"

Donny melihat ke arah gadis itu, matanya menyala-nyala penuh kebencian. Kim melihat beberapa orang lelaki lain berdiri di belakang Donny. Wajah-wajah itu tak pernah dilihatnya sebelumnya. Itu..

Salah serang lelaki melangkah mendekat, Kim mencoba berdiri dan menghindar, namun gerakan lelaki itu begitu cepat. Lelaki itu merangkul tubuhnya dan menindihnya di atas sofa, menduduki kaki Kim dengan berat tubuhnya. Donny berjongkok, mendekatkan bibirnya di wajah si gadis.

"Kamu tahu berapa cewek yang lenyap di Malang setiap minggu..?" desisnya.

Lelaki-lelaki di belakangnya dan tertawa ketika melihat raut wajah ketakutan yang memancar dari gadis itu.

"Kamu. Kamu mau apa..?" ucap Kim berusaha menenangkan hatinya.

Lelaki yang menduduki kakinya tertawa, "Memperkosamu, membunuhmu dan membuangmu ke balik semak-semak."

Kim menjerit tertahan. Donny dan lelaki-lelaki lain di belakangnya tertawa-tawa saat menyaksikan tangan kekar lelaki yang menindih tubuh gadis itu bergerak dan memutus kancing baju si gadis, memperlihatkan tonjolan buah dada yang putih mulus tanpa cacat. Kim mengerang dan berusaha meronta ketika lengan lelaki di atasnya menarik branya dan membuat payudaranya menyembul keluar.

"Jangan..!"

Kim merasa sekujur tubuhnya melemas ketika tamparan lengan kekar itu mengenai pipinya. Kim merasa pandangannya menjadi nanar, ia hanya bisa mengeluh pelan ketika tangan si lelaki di atasnya menarik celana pendek yang dikenakannya dan meremas-remas kemaluannya. Donny dan empat orang lelaki lainnya menyaksikan dengan penuh gairah.

"Ji, jangan lama-lama." salah seorang di antara mereka berseru.

Wiji tersenyum dan menggeram, mengeraskan pijatannya pada kemaluan gadis di bawahnya. Kim menjerit tertahan. Wiji menampar pipi si gadis sekali lagi, membuat kepala Kim terlempar ke samping.

Lelaki itu menarik celana dalam Kim melewati pahanya, kawan-kawannya berseru tertahan menyaksikan keindahan di depan mata mereka. Wiji mendecak kagum, menundukkan kepalanya dan menghisap puting payudara Kim dengan bernafsu, sementara tangannya merogoh dan menggesek liang vagina si gadis dengan jari tengahnya. Kim mengerang, kepalanya terasa pening. Seorang di antara gerombolan itu memegangi tangannya yang terangkat, menahannya dalam posisinya. Kim merasa sangat ketakutan di sela nanar matanya dan kepeningannya. Ketakutan yang wajar bagi seorang gadis yang akan mengalami kejadian yang lebih mengerikan daripada kematian sendiri. Kim mengeluh pasrah, rontaannya tidak membawa hasil. Donny menjulurkan lengannya dan meremas-remas payudara Kim dalam genggamannya. Wiji dan teman-temannya tertawa melihat geliat Kim saat Donny menundukkan kepalanya dan menjilat pusar si gadis. Kim merasa segalanya menjadi gelap.

"Ah, anak-anak Bungurasih ada di sini, rupanya. Kupikir tadinya hendak menyapa kalian begitu melihat sepeda motor plat L yang sangat kukenal di depan."

Donny dan gerombolannya menoleh ke arah pintu, melihat seorang lelaki kurus yang bersandar di daun pintu dan menyalakan rokok di ujung bibirnya.

"Batak..?" Wiji terdengar berseru tertahan.

Donny menatap keempat temannya yang lain yang juga terbelalak menyaksikan sosok kurus itu.

Lelaki kurus itu membuka topi SOX-nya dan membiarkan rambutnya terjurai di sisi bahunya. Matanya menatap tajam ke arah keenam lelaki di depannya, dan mendengus saat melihat gadis yang terpejam di atas sofa.

"Batak, kan..?" Wiji mengangkat tubuhnya dan mendekati si lelaki kurus, mengulurkan tangannya.

Lelaki kurus itu hanya menghembuskan asap rokok dari ujung bibirnya, tidak menunjukkan reaksi atas jabatan tangan yang terjulur di depannya, "Wiji, Johan, Rawit, Kemang, Putut, dan.."

Lelaki kurus itu menujuk tiap orang yang ada di situ dengan lirikan matanya. Donny merasakan keheningan teman-temannya, "Aku Donny."

"Ah, Donny. Dan kamu pasti anak Malang."

"Benar."

Lelaki kurus itu melangkah mendekati gadis yang masih tergolek tak berdaya di sofa. Tangannya terjulur, membetulkan letak baju si gadis. Donny memandang kebingungan ke arah teman-temannya yang hanya terdiam menyaksikan kejadian itu.

"Kamu siapa?" tanyanya sedikit keras.

Wiji memegang pundaknya. Donny menoleh dan melihat Wiji menggelengkan kepalanya.

"Mereka memanggilku Batak." lelaki itu mendesis tanpa menoleh.

Lelaki kurus itu bangkit berdiri, menatap Donny dengan matanya yang tajam.

"Berapa kamu membayar mereka..?"

Donny terhenyak merasakan tajamnya mata lelaki itu.

"Aku.. aku.."

Kepalanya terangkat dan tubuhnya terlempar menubruk dinding ketika telapak sepatu lelaki kurus itu menghantam rahangnya dengan gerakan di luar dugaan siapapun di ruangan itu.

"Aku tak suka ini." lelaki kurus itu menghela nafas.

Wiji dan teman-temannya hanya menatap diam ketika pandangan lelaki kurus itu menyapu perasaan kagum mereka akan gerakan si lelaki kurus saat mengangkat kakinya lurus di atas kepalanya.

"Tak.. ini.. kami.." Rawit bergumam lewat giginya yang tonggos.

"Bawa anak ingusan itu pergi dari sini."

Kelima orang itu hanya terdiam mendengar perintah itu. Mereka ragu-ragu.

"Ji, kamu masih ingat rasanya patah kaki..?" lelaki itu mendesis.

Wiji, yang agaknya kepala rombongan itu mengeluarkan keringat dingin dari pelipisnya. Kepalanya bergerak ke samping. Keempat lelaki lainnya tergopoh-gopoh mengangkat tubuh Donny yang mengucurkan darah dari mulutnya.

"Aku tak ingin berita ini keluar dari ruangan ini." seru si lelaki kurus.

Lelaki kurus itu menunggu sampai gerombolan orang itu pergi, menutup pintu dan menghela nafasnya dalam-dalam.

"Bahkan di sini kegelapan belum melepaskanku." desisnya lirih.

Lelaki itu membalikkan tubuhnya, menatap si gadis yang masih tergolek lemah, lelaki itu merasakan ketakutan dari bahu si gadis yang sedikit bergetar dan alis matanya yang berkerut. Lelaki itu menarik taplak meja, menutupi bagian tubuh si gadis yang terbuka, melangkah ke pintu, mengunci pintu itu dari luar dan melemparkan kuncinya ke dalam lewat celah jendela, berikut selembar kertas yang terlipat.

"Bidadari yang bodoh," senyumnya sebelum memasang lagi topi SOX-nya dan meninggalkan tempat itu.

BAB VI

Ina memeluk tubuh Kim dan berusaha menenangkan sahabatnya. Anya membaca lipatan surat itu, menghela nafasnya dalam-dalam.

"Kim," ucapnya, "Bagaimanapun kalau Ferry tahu.."

Kim mengangkat kepalanya, membiarkan lengan Ina menghapus air mata yang mengalir di pipinya, "Jangan. Kasihan Maya."

"Maya lagi. Maya lagi." Ina mengomel di sebelahnya, "Kamu lihat kan apa yang dilakukan Donny kepadamu..? Masih juga memikirkan Maya..?"

Kim terdiam, pikirannya terasa kacau.

"Ya sudahlah," Anya berkata, "Kalau memang maumu seperti itu."

Ina menatap lembaran kertas di tangan Anya yang bertuliskan 'JANGAN' itu dengan seksama.

"Siapa ya orang yang menolongmu..?"

Kim mencoba mengingat apa yang terjadi, namun semuanya terasa samar.

"Batak," desisnya lirih, "Namanya Batak."

"Batak,?" Anya bertanya bingung.

Ina bangkit berdiri, membukakan pintu. Anya menahan tubuh Kim yang berusaha bangkit dari atas sofa.

"Ada apa lagi, Bangsat..?" Ina mendesis sambil menatap wajah lelaki di depannya.

Donny hanya menunduk, tidak berani melangkahkan kakinya masuk. Kim melihat Anya menganggukkan kepalanya.

"Masuklah, Don." ucapnya lirih tanpa menoleh.

Ina membiarkan Donny melangkah masuk. Donny langsung menjatuhkan dirinya dan berlutut di atas kedua lutunya.

"Aku mohon maaf."

Ketiga gadis itu menatap bingung.

"Kami juga."

Kim menoleh ke arah pintu. Anya dapat merasakan getaran di bahu sahabatnya. Lima orang yang barusan datang langsung masuk tanpa basa-basi, berlutut dan mengucapkan 'maaf' berbarengan. Ketiga gadis itu semakin heran. Kim lebih dahulu menyadari apa yang terjadi. Gadis itu tersenyum, membingungkan kedua sahabatnya.

"Baik. Aku maafkan kalian. Lain kali, aku akan membunuh kalian atas perbuatan kalian." ucap Kim tegas.

Keenam lelaki itu menganggukkan kepala mereka dan keluar dengan masih merangkak di atas lutut-lutut mereka. Anya dan Ina menatap dengan penuh keheranan, sementara Kim hanya tersenyum penuh arti. Begitu orang terakhir keluar, Kim mendadak bangkit dan mengeluarkan kepalanya dari jendela. Kim sempat melihat bayangan sosok lelaki kurus berambut panjang itu mengangkat topinya di kejauhan dan membungkukkan tubuhnya seperti bangsawan abad pertengahan. Kim tersenyum, melambai dan berseru, "Terima kasih, Batak..!"

Sosok lelaki kurus di kejauhan itu menyalakan mesin sepeda motor di sebelahnya dan berlalu, diikuti keenam lelaki sebelumnya.

"Siapa sih dia..?" Ina bertanya di samping sahabatnya.

"Iya, siapa sih..?" Anya menimpali.

Kim tersenyum dan mendesah.

"Pahlawanku."

Ina dan Anya saling menatap dengan bingung.

Surabaya, 2000

"Berhenti sebentar, Pak."

Sopir taksi itu memandang dari spion penumpang dengan penuh rasa ingin tahu. Kim tidak mengacuhkan pandangan sopir itu, membuka pintu mobil dan melangkah turun. Nasi pecel, itu yang terbersit di benaknya saat itu. Bapak-bapak berpakaian lusuh itu menghentikan perbincangan mereka saat Kim membungkukkan tubuhnya memasuki tenda warung yang terlihat rapuh itu. Ibu penjual nasi pecel yang masih sibuk memasang sanggul rambutnya ikut-ikutan menghentikan kegiatannya dan memandang penuh perhatian.

"Bu, nasi pecel, dibungkus, dua.."

"Eh.." ibu itu terlihat sedikit gugup.

"Bu, nasi pecel.." Kim menahan tawanya.

Seorang bapak dengan tersenyum berkata, "Jeng, 'dang digawekno, mosok wong tuku dikon ngenteni." (Jeng=sapaan; cepat dibuatkan, masa orang beli disuruh menunggu)

Ibu penjual nasi itu tergopoh-gopoh bangkit berdiri melupakan sanggulnya yang belum terpasang, dan langsung menyiapkan pesanan Kim. Melihat tingkah si ibu penjual yang kocak, Kim tak sanggup menahan tawanya, dan mendengar tawa Kim yang lepas, bapak-bapak yang sedang menikmati kopi panas mereka itu tak tertahan ikut pula tertawa.

"Boleh saya duduk di sini..?"

Bapak-bapak itu bergeser dan mempersilahkan Kim duduk, sebagian dari mereka memandang dengan penuh rasa kagum ke arah Kim. Wajar saja, di saat-saat jurang kesenjangan sosial sudah sedemikian dalamnya ditambah dengan kerusuhan di mana-mana, jarang ada orang dengan penampilan exclusive yang masih memberanikan diri untuk membeli makanan di sebuah warung kecil di pinggir jalan. Dan sekarang, Kim, seorang perempuan, melakukannya.

"Dari mana, Dik." Seorang bapak memberanikan diri bertanya.

"Ah, sekedar menghabiskan waktu, Pak." Kim menjawab sopan.

"Cewek warungan nih, hahaha.." salah seorang bapak yang lain berseloroh.

Kim melirikkan matanya tajam, membuat si bapak yang berseloroh barusan terkesiap, dan buru-buru memalingkan wajah, menyeduh kopinya untuk meredam perasaan terkesiapnya. Kim tersenyum, mendinginkan suasana yang mendadak 'garing'.

"Bukan warungan, Pak. Jalanan." canda Kim.

Bapak-bapak itu tertawa bersamaan merasakan keakraban yang mendadak timbul antara mereka dan wanita itu. Ibu penjual nasi tersenyum melihat suasana yang mendadak hangat, menyelesaikan melipat bungkusan di tangannya, dan menyerahkan pesanan Kim.

"Monggo, Bapak-bapak," Kim berkata tersenyum sebelum melangkah keluar, dibalas dengan anggukan dan senyuman dari bapak-bapak di warung itu.

"Arang ono bocah wedok koyo ngono iku." (Jarang ada anak perempuan seperti itu.) Kim masih mendengar desahan ibu penjual warung sebelum melangkah masuk ke dalam Taksi.

BAB VII

Malang, 1996

"Pin..!"

Papin menoleh dan melihat Iwan berlari kecil menghampirinya.

"Apa..?"

"Jalan yow," Iwan memegang pundak Papin dan menatap dengan pandangan memohon.

Papin tertawa, "Jalan kemana, Man..?"

"Ke sini aja, sambil nyari kopi." Iwan menunjuk ke arah plaza di sebelah kampus mereka yang terlihat di kejauhan.

"Nyari kopi saja kesana..? Ke warung saja, deh." Papin memiringkan bibirnya tanda tidak setuju.

"Ayolah, kan ujian sudah kelar. Paling tidak 'happy-happy' sedikit."

"Okay, deh." Papin menyalakan mesin sepeda motornya.

"Bagaimana ujian kamu..?"

"Kacau." Papin menyalakan rokok di ujung mulutnya..

"Hahaha, seperti di Surabaya..?"

"Sangat mirip."

Iwan tertawa. Matanya memandang ke arah orang-orang yang lalu-lalang.

"Pin."

"Yo."

"Kamu nggak nyari pacar di sini..?"

Papin tersenyum pahit, "Boro-boro pacar, cewek yang mau pendekatan sama aku saja belum tentu ada."

"Coba kamu potong rambut, lalu berpakaian sedikit necis.."

"Percuma.." Papin melambaikan tangannya menyapu angin.

"Aku ingin pacarku menyukai aku apa adanya.."

BAB VII

Sehari sebelumnya.

"Kintan, nanti siang papa dan mama ke sana."

"Duh, jangan sekarang, Ma."

"Kenapa..?"

Kim memandangi tubuh-tubuh yang bergeletakan di ruang tamu.

"Eh, teman Kintan ada yang ulang tahun nanti siang."

"Oh, begitu."

Sebuah tangan memeluknya dari belakang, meraba perutnya dan merambat ke payudaranya. "Bentar, Ma."

Kim menutup gagang telpon dan menggerakkan kakinya ke belakang, menendang dengkul Ferry yang segera menjauh sambil terpincang-pincang.

"Ma..?"

"Ya..? Ada siapa di sana..?"

"TV, Ma," Kim beralasan sambil lalu, "Kintan mau mandi, mau ke kampus."

"Baiklah, nanti kalau tidak jadi ke pesta, telpon ke rumah."

"Siap, Ma."

"Yow, bangun kalian..!"

Kim menggerakkan kakinya menendangi tubuh-tubuh yang bergeletakan di atas lantai ruang tamu. Beberapa dari mereka terbangun, mengomel dan mengusap pantat mereka yang tertendang. Kim tertawa melihat tingkah mereka, dan menuju ke kamarnya.

"Aduh, yang dua ini," Kim menghela nafas, "Hey, bangun..!"

Ina mengeluh dan membuka matanya, "Jam berapa sekarang..?"

"Jam setengah dua belas," Kim membuka lemari dan mengambil sepotong baju.

Ina mendudukkan tubuhnya, menyingkirkan lengan Andi beberapa saat yang lalu masih menempel di dadanya. Andi merasakan pergerakan gadis itu dan ikut membuka matanya.

"Loh, aku di mana..?" gumam Andi tak jelas.

Ina membungkukkan tubuhnya, mengecup bibir Andi dan bangkit dari atas tempat tidur. Kim melemparkan sepotong pakaian lain ke arah Ina, yang langsung mengenakannya.

"Bangun, Di. Sudah siang. Katanya kamu ujian jam satu..?" Kim berkata sambil memalingkan wajahnya, ketika Andi membalikkan tubuhnya yang tertelungkup di atas tempat tidur.

"Masa..?" Andi terkejut dan segera bangkit, memunguti pakaiannya di lantai. Ina membantu kekasihnya berpakaian.

Kim mengeleng-gelengkan kepalanya melihat mereka berdua, dan melangkah keluar kamar menuju ke kamar mandi.

"Ikut, Say." Ferry mendadak muncul di belakangnya.

"Nanti sabunkan punggungku, okay..?"

"Hore," Ferry bersorak, membukakan pintu kamar mandi dan mendorong Naryo yang masih sibuk menutup retsleting celananya keluar.

"Kim, aku senang kamu kembali seperti biasa."

"Memangnya aku kenapa..?"

Ferry mengusapkan sabun di tangannya ke punggung putih gadis di depannya.

"Beberapa hari terakhir kamu terlihat sedikit murung."

"Masa..?"

"Iya." Ferry mengangkat gayung dan membasuh punggung Kim dengan air.

"Ah, aku tidak merasa demikian."

Ferry tersenyum mendengar kebohongan Kim, "Sudah."

Kim berdiri dan membuang rambutnya ke belakang, "Thanks."

"Lalu..?"

"Lalu apa..?" Kim mengambil air dengan gayung dan menyiramkannya ke tubuhnya.

"Hanya menyabuni saja..?" protes Ferry dari belakang.

"Dasar," gerutu Kim, "Sini..!" Kim meletakkan gayung di tangannya ke pinggir bak mandi dan membalikkan tubuhnya.

Gadis itu melingkarkan lengannya di leher Ferry dan menempelkan dadanya yang basah ke dada telanjang lelaki itu. Ferry mendesah dan mengecup bibir gadis di hadapannya. Kim mengangkat paha kanannya dan menurunkan pinggulnya menduduki kemaluan lelaki itu, menjepitnya di lipatan pahanya. Ferry mendesah dan menekan pinggulnya ke atas.

Kim mengecup bibir Ferry dan melumatnya dengan penuh nafsu, membuat Ferry terengah dan menggerakkan pinggulnya, menggesekkan kemaluannya ke bibir kemaluan Kim. Ferry menekan tubuh Kim, mendorongnya hingga bersandar ke dinding, Kim mendesah dan mengetatkan rangkulannya pada tengkuk Ferry, mengangkat kedua kakinya dan melingkarkannya di pinggang lelaki itu. Ferry menahan bobot tubuh Kim dengan pahanya, menggerakkan pinggulnya menggesek dan menekan kemaluan gadis itu berulang-ulang.

"Fer.." Kim terengah.

Ferry memandang wajah gadis di dekapannya yang masih basah oleh air, "Ya..?"

Kim mendadak tersenyum dan menurunkan kaki kanannya, "Sakit, bego."

Ferry tertawa kecil, "Lalu..?" Pinggulnya menekan sedikit lebih keras. Kim mengaduh dan menundukkan kepalanya, mengigit hidung lelaki itu.

"Aduh," Ferry mengerang dan melepaskan pelukannya.

Kim tertawa, membiarkan Ferry yang sibuk memegangi hidungnya. Gadis itu mengambil gayung di pinggir bak, memasukkannya ke dalam air dan menyiramkannya ke tubuh Ferry yang masih memegangi hidungnya.

"Mandi, Say. Biar segar." Ferry mengumpat kalang kabut.

"Tegaa.."

Kim mengambil handuk dan mengeringkan tubuhnya. Ferry memeluknya dari belakang dan mencium tengkuk gadis itu. "Kim."

"Ya..?"

"Apa sih sebenarnya aku bagimu..?"

Kim tersenyum, membalikkan tubuhnya dan mengecup bibir lelaki itu.

"Sahabat yang aku sayangi."

Ferry mendesah nafasnya dalam-dalam, "Terserah kamu, deh."

Kim menangkap nada kekecewaan itu dalam nada suara Ferry.

"Tunggu."

Ferry melihat Kim mengambil gayung sekali lagi, dan menyiramkan sisa air dalam gayung itu ke lubang kunci di pintu kamar mandi. Terdengar suara seseorang memaki-maki dan beberapa langkah kaki yang tergesa-gesa menjauh. Ferry mengenakan handuknya dan membuka pintu, melihat Andi yang masih menatap rokok basah di tangannya.

"Padahal tinggal sebatang," ratapnya.

Kim tertawa-tawa kecil dan melangkah keluar.

BAB IX

Jojo terlempar, tendangan yang mengenai rusuk kirinya begitu keras. Lelaki itu hampir bisa merasakan setiap tulang rusuknya yang berderak patah. Matanya menatap nanar ke arah orang yang menendangnya.

"Bangsat."

Lelaki berambut panjang itu mendekati Jojo dan mengayunkan kakinya sekali lagi ke tubuh yang mesih tertelungkup itu. Jojo merasakan nyeri di tulang pipinya, pandangannya sedikit gelap sekarang. Ia dapat mendengar lelaki itu tertawa sinis saat menjambak rambutnya.

"Dengar, Tikus," lelaki itu mendesis di telinganya, "Dewi fortuna takkan menghampirimu saat ini. Bersyukurlah aku masih mengasihani nyawa tikusmu."

Lelaki itu menghantamkan kepala korbannya ke aspal.

Dari sudut matanya Jojo masih sempat menyaksikan beberapa pasang kaki itu melangkah menjauh sebelum gelap menyelimuti otaknya.

Ardi memainkan senar gitarnya dengan lincah mengikuti suara radio.

"Di, katanya minta kopi."

Ardi menatap Inge yang berdiri di depan pagar sambil membawa secangkir kopi.

"Wah, aku sampai lupa." Lelaki itu berdiri dan menghampiri gadis yang masih meruncingkan bibirnya. "Ayo, masuk dulu."

"Katanya minta kopi, akhirnya aku juga yang mesti repot membawanya ke sini," gadis itu mengomel panjang lebar.

"Kan sekalian saja."

Ardi memeluk tubuh Inge dari belakang, meletakkan telapak tangannya di buah dada si gadis. Inge menggeliat dan kopi itu nyaris tumpah dari tangannya.

"Hei..! Nanti dilihat orang," Inge berseru.

Ardi tertawa. mengambil kopi itu dari tangan Inge dan meletakkannya di atas meja kecil di teras.

"Lagi main lagu apa, Di..?"

"Biasa, Sweet Child o' Mine, buat inagurasi adik kelas besok."

"Keren," Inge berkata sambil mengambil gitar yang tergeletak di teras, mencoba bergaya seperti gitaris kenamaan dan memetik beberapa senar dengan jemarinya yang lentik.

Ardi tersenyum mendengar suara sumbang itu, menghampiri Inge dan berbisik di telinga gadis itu, "Sana, pulang. Masih banyak pelanggan yang menunggu cewek manis."

Inge meruncingkan bibirnya, "Jadi kamu tidak..?"

Lelaki itu tertawa dan tangannya bergerak cepat mencubit payudara si gadis.

"Nanti malam saja."

"Dasar."

"Di.."

Ardi menolehkan kepalanya, beberapa orang pemuda memasuki pekarangan dengan terburu-buru.

"Ada apa..?"

"Gawat, Di," salah seorang dari mereka berkata. Ardi menoleh sejenak ke arah Inge yang memandang bertanya-tanya.

"Inge, kamu pergi, sana." Inge mengangguk dan melangkah ke luar.

"Jadi..?"

"Jojo dibantai orang."

Ardi terkesiap, "Di mana dia sekarang..?"

"Di Syaiful Anwar."

Tanpa banyak omong Ardi bergegas mengambil jaketnya di ruang tamu, menyusupkan samurai pendek itu ke lipatan celananya dan mengajak teman-temannya segera berangkat. Selama perjalanan ia menjadi sedikit bingung menghadapi inagurasi besok, karena Jojo adalah vokalis grup band-nya. Jika Jojo cidera, siapa yang akan menggantikannya..?

Ardi menatap Jojo yang telentang di atas tempat tidur UGD dan menggelengkan kepalanya. Wajah lelaki itu terlihat penuh lebam, beberapa lilitan perban melingkari dada dan perutnya.

"Siapa, Jo."

Jojo menatap dengan sayu, kesadarannya belum pulih benar.

"Sepertinya anak Dinoyo, berambut panjang, kurus," desahnya lirih.

"Kamu pasti..?"

"Entahlah," Jojo mengerenyitkan alisnya, "Yang penting dia tahu kalau aku anak band, dan orang Surabaya. Argghh.."

Ardi memanggil perawat yang segera datang dan menyibukkan dirinya menenangkan Jojo yang mulai mengerang kesakitan. Ardi memandang dengan iba ke arah temannya, nyaris bisa merasakan kenyerian tulang rusuk Jojo yang patah.

Ardi melangkah keluar menghampiri teman-temannya, "Ayo berangkat."

"Kemana, Di."

"Ferry, dia pasti tahu."

Teman-temannya saling berpandangan dengan hati berdebar-debar mendengar nama itu. Mereka tahu sifat emosional Ardi yang terkadang membuatnya begitu impulsif, tapi Ferry..? Setelah sekian lamanya mereka bergencatan senjata..? Ini gila.

BAB X

"Ferry..! Balikin..!" Anya berteriak-teriak, menimbulkan sedikit kegaduhan di warung nasi pecel itu.

Ferry tertawa lebar dan mengangkat foto itu tinggi-tinggi, "Hahaha, ternyata kamu ada 'mata' dengan anak dosen itu, ya..?"

Teman-temannya yang lain tertawa melihat gerakan Anya yang menggapai-gapai foto di genggaman lelaki tinggi besar itu.

"Fer."

Ferry membalikkan tubuhnya, melihat Naryo dan beberapa temannya sudah berdiri dan melangkah keluar dari warung. Ferry mengembalikan foto itu kepada Anya, dan menyusul keluar.

"Ada apa..?"

"Siapa yang keluar ke kota sekitar pukul tujuh tadi..?"

Ferry melangkah mendekati lawan bicaranya.

"Yang sopan, Mas. Jangan langsung main serobot."

Lelaki itu bergerak turun dari sepeda motornya, mendekai Ferry dan menatap wajahnya lekat-lekat.

"Aku bertanya, Fer."

Ferry menatap tajam ke mata Ardi dan menggeram.

"Aku bilang, yang sopan kalau bertanya," desisnya.

Ardi menggerakkan lengannya mencengkeram kerah baju lelaki itu, Ferry menepis dengan sikutnya. Beberapa orang yang mengelilingi mereka terlihat bersiap-siap memasang kuda-kuda. Para pemilik warung bergegas menyembunyikan piring, gelas, serta barang pecah belah lainnya.

"Tenang saja, Bu," gadis yang masih asik menghabiskan nasi pecelnya itu berkata, "Tidak mungkin di sini, kok."

Ibu penjaga warung itu menggaruk-garuk kepalanya sambil mendesah lega. Bagaimanapun, perkataan gadis ini selalu bisa dipercaya, pikirnya. Ferry menatap dengan garang ke arah lelaki di hadapannya.

"Kalau ada kenapa..? Ada masalah..?"

Yang diajak bicara menggeram dan mendesis, "Selesaikan seperti dulu."

"Man on man..?"

"Sure."

"Kamu tidak ikut kan, Kim..?" Anya mendesah ragu.

"Kenapa tidak," sahut Kim, menyerahkan lembar dua puluh ribuan kepada ibu penjaga warung, "Kembalinya besok saja, Bu."

"Jangan dekat-dekat, Kim. Aku takut."

Kim membatalkan niatnya untuk mendekat, mengambil tempat di samping Anya yang segera memegang lengannya kuat-kuat.

"Tunggu. Sebenarnya ini masalah apa..?"

Ardi menatap lelaki itu dan tersenyum penuh arti.

"Ini dulu. Yang lain belakangan."

Ferry tertawa dan melepaskan jaketnya, "Tentu saja."

Suasana konstruksi bangunan itu semakin mencekam. Kegelapan malam menimbulkan kesan tersendiri yang menemani hati orang-orang yang berdegup kencang melihat kedua ketua gerombolan itu bersiap mengambil kuda-kuda.

"Aku rindu kamu, Fer." Ardi berseru sambil mengayunkan lengannya.

Ferry membungkuk dan menggerakkan lengan kirinya, menusuk perut Ardi dengan buku-buku jemarinya. Ardi menggeram dan menarik kembali sikutnya, membuat kepala Ferry terlempar.

"Bagus," Ferry berseru menjatuhkan dirinya sambil menendang dengan kaki kanannya, Ardi terhuyung ke belakang.

Ferry melompat mendekat dan melemparkan tinju kanannya yang segera ditangkis oleh ayunan lengan musuhnya. Ardi mengayunkan lengan kanannya dan menghantam rahang musuhnya yang segera terdorong beberapa langkah ke samping.

"Kurang cepat..!" teriaknya.

Ferry tersenyum pahit dan menggulingkan tubuhnya, menghindari tendangan ke arah perutnya.

"Masa..?" tawanya.

Tangannya memegang kaki musuhnya yang baru menjejak tanah dan mengangkatnya ke atas. Ardi merasa kepalanya sedikit pening ketika mencium tanah di bawahnya.

"Hahaha.." Ferry tertawa melihat gelagat musuhnya yang bergulingan memegangi kepalanya, kakinya terangkat siap menjejak.

Ardi mendadak berguling dan mengayunkan kakinya ke arah kemaluan Ferry.

"Aduh, curang." Ferry terjatuh memegangi kemaluannya yang tertendang.

Seketika, kerumunan orang itu bergerak berbarengan.

"Sudah..!"

Anya terhenyak mendengar teriakan sahabatnya.

Kim berlari ke tengah kerumunan sambil membentangkan tangannya lebar-lebar.

"Lagi-lagi Kim." Ardi memegangi kepalanya yang masih sedikit pening. Ferry tertawa dalam kenyeriannya.

Kerumunan orang itu sejenak merasa lucu melihat kedua orang yang terduduk di atas tanah sambil tertawa-tawa. Kim meletakkan kedua tangannya di pinggang dan memandangi kedua lelaki itu bergantian.

"Hihi.. kalian terlihat konyol. Apa tidak malu..?"

Beberapa saat kemudian gadis itu tertawa. Semua orang ikut tertawa mendengar selorohan Kim.Suasana tegang mendadak berubah renyah.

"Jadi ada apa sebenarnya..?"

Ardi menempelkan tissue itu ke kepalanya, berusaha menghentikan aliran darah yang masih tersisa. "Ada yang memukuli Jojo, tadi, sekitar pukul tujuh.""Ah..?" Ferry cukup mengenal Jojo, angkatan adik kelasnya dari Surabaya. Seingatnya, anak itu tak pernah mencari masalah, "Lalu..?"

"Entahlah."

"Maksud kamu..?"

"Jojo merasa pernah melihat anak itu berkeliaran di seputar Dinoyo."

"Oh..?" Ferry terkesiap, "Bagaimana ciri-cirinya..?"

"Rambut panjang, kurus, dan menurut Jojo, kemungkinan juga seorang dari Surabaya."

"Surabaya..?" Kim mendesah lirih.

Ferry dan Ardi memandang heran atas reaksi Kim yang sedang memegangi botol Betadine di sebelah mereka. Namun mereka tidak terlalu mengacuhkannya.

"Dari mana ia tahu kalau orang itu anak Surabaya..?"

"Katanya, si gondrong itu sempat berkata 'sejak dulu aku selalu ingin memukuli kamu', dan semacam itulah."

Ferry menganggukkan kepalanya, "Berarti cerita lama, dong..?"

"Mungkin. Dan Jojo baru masuk ke sini setahun. Berarti orang itu memang memburunya."

"Tunggu," seseorang berkata, "Kalau gondrong, kurus, anak pindahan.."

Ferry dan Ardi menoleh ke arah Anya. Kim memandang dengan penuh perhatian, hatinya berdebar. Mungkinkah..

BAB XI

"Papin..!"

Papin menoleh dan melihat seseorang menghampirinya dengan tertawa. Iwan merasa gerah memandangi orang yang barusan datang bersama teman-temannya. Papin mengerenyitkan alisnya. Orang yang baru datang itu mengatakan sesuatu kepada teman-temannya, sebelum meninggalkan mereka dan mengambil tempat duduk di samping Papin.

"Papin. Ternyata," orang itu tertawa menampakkan giginya yang kehitaman, "Aku ngga mengira ketemu kamu disini."

"Hehehe," Papin tertawa masam, "Oh, kenalkan, ini Iwan."

Iwan mendengar suara gemerincing dari gelang besi di pergelangan tangan lelaki itu saat menjabat tangannya, "Dodon, kenalkan."

"Sudah berapa lama, Pin..?"

Papin tersenyum, "Hehehe, sekitar enam bulan."

Dodon ikut tertawa, "Aku sudah mengira kamu bakalan nyusul aku ke Malang."

Iwan yang tidak mengerti bahan pembicaraan memilih diam dan menghabiskan kopinya sambil memandangi orang yang berlalu lalang di depannya.

"Pin, sejak keja.."

"Don, kamu ngapain aja selama ini..?" Papin memotong pembicaraan.

Dodon tertawa dan melirik ke arah Iwan yang menatap ke seberang. "Biasa, pengangguran."

Papin tersenyum dan mematikan rokoknya di dalam asbak. "Sama sekali tidak berubah."

Dodon tergelak. "Dan kamu..?"

"Yah, beginilah. Masih berusaha melupakan."

Dodon tersenyum, menyalakan rokoknya, "Si Kembar."

"Yang terpisah." Papin melanjutkan, dan mereka berdua tertawa.

"Pin, cabut yuk." Iwan memecah pembicaraan.

Papin merasa lega dalam hatinya, "Ayo. Don, kami balik dulu."

"Oke, aku juga mau persiapan perayaan."

"Oh, perayaan apa..?"

"Biasa, tadi malam baru 'pesta'."

Papin tersenyum dan menggelengkan kepala.

"Kamu tetap berangasan seperti dulu."

"Oh, jadi orang itu yang lebih dulu menyenggol sepeda motormu..?"

Jojo mengangguk lemah mengiyakan. "Berarti ia memang sengaja."

Ferry meraba janggutnya, mecoba memikirkan apa yang harus dilakukannya.

"Kamu yakin pernah melihat dia di daerahku..?"

Ardi memegangi pundak Ferry, "Jojo bukan seorang pembohong."

Ferry mendesah, "Baiklah. Aku akan coba mencarinya."

Sebelum melangkah pergi, Ferry mendadak teringat sesuatu.

"Jo, kata orang itu dia sudah lama ingin memukuli kamu, berarti dia juga dari Surabaya. Apa kamu pernah punya masalah waktu di sana..?"

Ardi menatap ke arah Jojo, menyadari kebenaran asumsi Ferry. Jojo membuka matanya sedikit.

"Aku jadi ragu-ragu." Ferry mendesah saat melangkah keluar.

"Kenapa, Fer..?" tanya Ardi ingin tahu.

"Entahlah. Aku tahu ada seorang anak pindahan di daerahku yang mungkin sesuai dengan ciri-ciri yang disebutkan si Jojo. Hanya saja.."

"Kenapa..?"

"Sepertinya anak itu bukan seorang preman. Malah cenderung seperti cacing kurus berambut panjang."

"Apa salahnya dicoba dulu..?"

Ferry mengiyakan.

"Ayo kita cari dia."

BAB XII

"Menurut kamu kelanjutannya bagaimana..?"

Kim mengangkat bahunya, "Entahlah, itu urusan mereka."

Anya membantu Kim memisahkan kaset-kaset di depan mereka.

"Eh, Kim. Bagaimana kabar pahlawanmu..?"

Kim menjambak rambut Anya yang tersenyum menggoda.

"Idih, iseng. Mana aku tahu..?"

Anya menggeliat dan menyenggol rak kaset. Beberapa kaset terjatuh dan mengeluarkan suara nyaring.

"Ups." Kim bergegas membereskan kaset yang berserakan sebelum pemilik toko menghampiri.

"Gara-gara kamu, Kim," omel Anya sambil membantu.

"Mas, awas kakinya."

Orang itu menoleh dan dengan gerakan kocak melompat ke samping. Kim tertawa melihat gerakan kaki itu dan mengangkat kepalanya.

"Kamu..?"

Papin membungkukkan tubuhnya, memungut kaset di depan kakinya.

"Maaf, aku tidak sengaja berdiri di sini," katanya kemudian sambil menggaruk ubun-ubunnya.

Gerakannya terlihat begitu konyol. Kim tersenyum.

"Oh, tidak apa-apa," Kim berusaha menyingkirkan bayangan seseorang yang samar-samar di ingatannya. Tidak mungkin.

"Makanya, kalau jalan lihat-lihat." Anya yang mendadak muncul berkata sinis.

"Iya, deh. Sori." Papin tergagap-gagap.

"Pin, sudah ketemu kasetnya?" Iwan melangkah dari rak kaset.

"Sudah."

"Pin..?" Kim bertanya menggumam.

"Aku Papin." Papin menjulurkan tangannya.

"Kim. Ini Anya." Anya meruncingkan bibirnya.

Papin tersenyum, "Ini.."

"Iwan, anak manajemen '94," Kim menyahut.

Iwan mengeluarkan keringat dingin di pelipisnya, "Oh..i..iya." Mau tak mau kedua gadis itu tertawa melihat tingkah gugup Iwan.

Papin memandang dengan heran, "Kenapa, Wan..?"

"Tidak apa-apa," Iwan berkata cepat, "Ayo, Pin."

Papin bangkit berdiri dan membersihkan tangannya di celananya.

"Buru-buru, nih." tanya Kim setelah bangkit berdiri.

"Iya. Kami cuma mencari kaset." Papin berkata sambil menunjukkan sebuah kaset.

"Oh, okelah. Eh, Papin, kamu anak pindahan dari Surabaya, kan..?"

Papin memiringkan kepalanya, "Kamu kok tahu..? Kenapa..?"

"Ada kenalan yang bernama 'Batak' tidak..?"

Papin memandang langit-langit toko, berfikir sejenak.

"Hmm.. perasaan Surabaya itu luas, dan banyak orang bataknya."

Kim tertawa melihat gaya sok serius itu, "Iya deh. Pulang sana, nanti temanmu pulang disuruh mandi, ya."

Iwan menunduk dan mengusap-usap punggung lehernya. Papin tertawa, "Hahaha, baiklah. Sampai jumpa."

Kim mengangguk dan tersenyum, melihat Papin yang sejenak terpana, sebelum lelaki itu melangkah pergi bersama temannya.

"Kamu kok jadi sok akrab begitu, Kim..?"

Kim mendesah dalam. "Pandangan matanya.."

"Kenapa dengan matanya..?"

"Entahlah."

Kim tak mungkin menceritakan pada temannya tentang perasaan hatinya yang bergetar saat menyadari sorotan tajam yang begitu dalam dan teduh dari mata lelaki itu. Sebuah pancaran kekelaman penderitaan yang nyaris tak pernah ditemuinya selain pada saat-saat dimana ia bercermin di depan kaca.

"Hey tunggu, apa-apaan ini."

Lelaki kurus itu memegangi pantatnya yang sakit setelah mencium aspal. Matanya memandang ke sekelilingnya. Gelap, nyaris tak ada cahaya di tempat itu. Sosok-sosok tubuh mendekatinya, si lelaki kurus terkesiap dan bangkit berdiri. sempat melirik sepeda motornya yang terguling setelah ditendang tadi.

"Tunggu." Sebuah seruan terdengar dari balik kerumunan orang itu.

Kerumunan itu membuka jalan. Dua orang mendekatinya, lelaki kurus itu menyipitkan matanya berusaha memastikan sosok-sosok yang menghampirinya.

"Kamu..? Kamu yang waktu itu..?"

"Benar," Ferry mengiyakan, "Temanku di sini ingin menanyakan sesuatu."

"Oh," Lelaki itu menatap sosok di sebelah Ferry, "Silahkan saja."

Ardi menatap wajah kurus itu dalam-dalam, berusaha mengira dan mengukur.

"Aku mau bertanya," desisnya lirih, "Mampukah kau menerima ini..?"

Tangannya terayun.

Lelaki kurus itu menerima pukulan di rahangnya dengan telak, "Arrghh.." Buku-buku jemarinya terkepal. Matanya terasa berkunang-kunang.

Ferry tersenyum, menggelengkan kepalanya dan menghisap rokoknya.

"Bukan dia, Di."

Ardi mengusap buku jarinya yang sedikit kesemutan, "Kurasa juga demikian."

"Ayo, kita pergi. Kita ke tempat Jojo, mungkin ada yang terlewat."

Ardi mengiyakan dan naik ke atas sepeda motor.

Si lelaki kurus memandang dengan bingung. namun ia memilih untuk tidak mengatakan apa-apa. Kerumunan lelaki itu menyalakan sepeda motor mereka masing-masing.

"Oh, ya." Ferry membalikkan tubuhnya.

Tubuhnya membungkuk dan mengambil sebutir kerikil.

"Hey, kurus. Nih." tangannya melemparkan batu kerikil itu ke arah kepala si lelaki kurus.

Lelaki itu memiringkan kepalanya sedikit dan batu kerikil itu menyibakkan rambut panjang yang tergerai di pundaknya. Ferry tersenyum, menarik gas sepeda motornya dan berlalu.

"Sialan," Ardi mengeluarkan keringat dingin sebelum memutar sepeda motornya dan menyusul Ferry.

"Siapa dia sebenarnya..?"

Ferry merasakan angin malam menenangkan bulu tengkuknya.

"Aku merasa pernah mengenalnya dulu. Dulu sekali.."

"Dulu..?" Ardi terhenyak, teringat akan masa-masa SMA mereka.

"Apa mungkin..?"

"Mungkin saja. Tapi bukan dia yang memukul Jojo."

"Kalau benar itu dia, memang tidak mungkin."

BAB XII

Lelaki itu menyibakkan rambut panjangnya, membiarkan bibir gadis di atasnya menelusuri lehernya. Mulutnya menyunggingkan senyuman, tangannya bergerak meremas pinggul si gadis. Pinggulnya terangkat, menekan kemaluannya semakin dalam. Gadis itu menggeliat dan mengeluh, menikmati batang kemaluan si lelaki memenuhi liang vaginanya. lelaki itu bergerak semakin liar, membanting si gadis hingga terlentang, menciumi payudara si gadis yang semakin terengah. Jemari gadis itu menjambak rambut panjang si lelaki dengan kasar, menekan kepala si lelaki kedadanya. Lelaki itu mengangkat tubuhnya dan menampar pipi si gadis yang hanya tersenyum. Dalam tawanya lelaki itu menggerakkan pinggulnya semakin cepat. Gadis itu mengerang penuh kenikmatan.

Dodon mengerang, mengejang dan menyemburkan spermanya ke liang kemaluan gadis di bawahnya. Gadis itu mengangkat kakinya tinggi-tinggi, melingkarkannya ke pinggang lelaki di atasnya dan menekan pinggulnya kuat-kuat.

"Sial." Dodon mengumpat dan melompat dari tubuh si gadis saat mendadak pintu terbuka dengan suara keras.

Si gadis menjerit dan menutupi tubuhnya dengan seprei.

"Oh, kamu. Ada apa..?" ucap Dodon menenangkan dirinya.

Lelaki yang mendobrak pintu kamar itu menarik turun topi SOX-nya dan mendesis, "Kamu sebaiknya segera pulang ke Surabaya."

Dodon menyempatkan diri untuk duduk di pinggir tempat tidur dan menyalakan rokok yang sudah terselip di bibirnya, "Kenapa aku harus pulang..?"

Gadis telanjang itu berlari kecil menuju kamar mandi.

"Mereka mencarimu karena ulahmu."

Dodon bangkit berdiri dan mendekatkan wajahnya ke wajah lelaki bertopi itu.

"Hey," desisnya, "Lagipula ini semua gara-gara kamu."

Lelaki bertopi itu menatap mata Dodon dalam-dalam.

"Gara-gara aku..?"

Dodon membalikkan tubuhnya, melemparkan rokok di mulutnya ke lantai dengan penuh amarah, "Seandainya waktu itu kamu mengijinkanku menghabisinya di Surabaya, dendam ini takkan merembet sampai ke wilayah orang. Kamu sendiri seharusnya sadar itu..!"

Kata-kata itu menusuk, membuat si lelaki bertopi mengangkat kepalanya.

"Pulang, Don. Entah apapun alasannya. Kamu berbahaya kalau terus di sini, aku mengingatkanmu sebagai seorang teman lama."

"Seandainya aku tidak pulang..?"

Lelaki itu melangkah mendekat, geraman kecil terdengar dari bibirnya.

"Aku akan memulangkanmu."

Matanya tajam dan menusuk.

Suasana sejenak hening. Dodon merasakan bulu kuduknya meremang.

"Kamu serius, Tak..?" desisnya lirih.

"Menurut kamu..?"

BAB XIV

"Lalu..?" Kim mendengar dengan penuh perhatian.

"Entahlah," Ina menghabiskan jus apelnya, "Kudengar seseorang meninggalkan seamplop uang di meja rumah sakit, beserta surat pernyataan maaf untuk Jojo."

"Masa tidak ada yang melihatnya..?"

"Itu masalahnya, katanya sih ada anak gondrong bertopi yang berkeliaran sebelum amplop itu ada di atas meja."

Kim menenangkan debaran jantungnya.

"Jadi mungkin benar itu dia."

Ferry mendesah nafasnya dalam-dalam. Ardi menggelengkan kepalanya, bersyukur bahwa kemarin orang itu tidak membalas pukulannya.

"Kamu sangat beruntung, kalau itu memang dia."

"Ya, benar. Aku masih beruntung."

"Lalu apa yang harus kita lakukan..?"

"Kembali seperti biasa..? Lagipula si pemukul sudah pergi dari sini."

"Lalu..? Apakah kita tidak memburu si pemukul lewat dia..?"

"Lupakan saja. Jojo kan sudah menerima uang rumah sakit."

"Tapi.. masa segitu saja..?"

"Kamu mau cari masalah lagi..? Aku tidak, itu yang jelas. Kamu tahu kan akibatnya kalau mencari masalah dengan orang itu..? Seandainya itu benar dia."

Ardi mengeluh. Mimpi buruk itu kembali menghantui dirinya, menindas perasaan sebal tentang inagurasi yang toh akhirnya terpaksa berlangsung tanpa keikutsertaannya. 

TAMAT

Gudang cerita 17 xxx

http://cerita17.club

Tags : Cerita XXX Pemerkosaan
Share us on Facebook



Wap Partner
Komik XXX
Komik Hentai
Manga Hentai
Komik Hentai Indo
Gambar Bugil
Cerita 17

6 Situs Terpopuler: Google.com, Google.co.id, Alexa.com, Bing.com, Yahoo.com, CERITA17.club


DMCA.com Protection Status
C-STAT
Cerita Dewasa
© 2015 Cerita17.Club
All Right Reserved